Skip to main content

Berawal dari "Tahu", lalu "Kenal", agar “Akrab”

Terkadang hidup terjadi begitu sederhana. Sesederhana sebuah perkenalanku denganmu. 


Kadang orang tak tahu, pulpen dan identitas memiliki suatu hubungan.
   
   Segala sesuatu memiliki nama atau sebutan atau istilah yang melekat atas dirinya. Aku sangat yakin, nama ini akan membuat individu lain -khususnya manusia- mudah untuk mengingat dan mengenalinya. Mari kita ambil sebuah contoh berikut:
   Benda yang panjangnya sekitar 20 cm. Digunakan untuk menulis. Bisa juga digunakan untukmenggambar atau meninggalkan jejak dari tinta yang ada didalamnya. Benda ini tidak akan berfungsi jika tidak ada tinta didalamnya. Tinta inilah yang membuat jejak dari pulpen ini tidak bisa dihapus. Kecuali, dengan penghapus tertentu atau menggunakan sebuah benda yang dinamakan tipe-x (baca:tipeks) kering atau correction pen. Jejak yang ditinggalkan dapat berwarna-warni. Tapi umumnya berwarna hitam. Warna merah, biru, dan hijau juga tak jarang kita temukan.

   Panjang sekali bukan penjelasan mengenai satu benda tadi? Lantas jika kita melekatkan padanya sebuah nama, yaitu PULPEN, akankah kita dengan mudah mengingat dan mengenali benda tersebut? Benda untuk menulis yang tintanya berwarna hitam dan tidak bisa dihapus? Pulpen namanya. Mudah kan? Begitu pula dengan manusia. 
Nama memudahkan individu untuk mengingat dan mengenali seorang individu yang sedang berinteraksi dengannya. Tetapi terkadang, nama bahkan lebih mudah dilupakan daripada wajah seseorang. Okay. Aku yakin, dengan mengetahui nama, selanjutnya kita dapat mengenali individu lebih dalam. 
   Perkenalkan, diri ini memiliki nama Ramadhan Dwi Marvianto. Sering dipanggil Marvi pada saat ini -lebih tepatnya semenjak SMP nama panggilanku berubah menjadi Marvi yang awalnya dipanggil Arvi. Semakin lama, nama Marvi cukup sulit. terdiri dari dua suku kata: Mar-Vi. Kebanyakan orang akan memanggilku dengan satu suku kata. Mar atau Vi. Tapi aku lebih suka dengan Vi. Terdengar lebih ramah. Lebih muda. Lebih energik! Atau jangan-jangan karena suku kata Mar diasosiasikan dengan nama-nama orang yang sudah berumur 40 tahun lebih. Sehingga dengan dipanggil Mar aku tampak tua? Bisa jadi. Tetapi, muncul sebuah solusi dari dalam diri ini. MARV!
   Entah kapan satu suku kata ini terlintas dalam pikiran. MARV! Nama panggilan yang unik. Bercampur suku kata Mar dan Vi yang dikurangi menjadi V. MARV! Terdengar agak ke-barat-baratan. Tapi menarik. Aku merasa lebih mudah saja ketika dipanggil MARV!
   Aku merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Di mana kedua saudaraku -satu kakak dan satu adik- berjenis kelamin laki-laik. Jadi kami seperti tiga perjaka. Three Musketeer! Komposisi ini ditambah dengan seorang Ibu yang tentunya cantik dalam keluarga. Beliau amat sangat kuat menurutku. Panutan sekali. Beliau sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya.
 Berkat perhatian beliau dengan pendidikan. Akhirnya seorang Marvi dapat menyelesaikan beberapa pendidikan formal. Mulai dari awal, tahun 2002, dinyatakan lulus Taman Kanak-kanan ABA Mubarok. Masih kecil, berusia sekitar 6 tahun lebih delapan bulan. Kelulusan dari TK tersebut langsung membawaku ke SD Lempuyang Wangi 2. Di bangku sekolah ini, aku belajar mengembangkan diriku. Sepakbola. Masih teringat bahwa dulu waktu kelas lima, aku diberi kesempatan untuk menjadi pemain sepakbola mewakili Kontingen Jogja Utara -secara instansi sepertinya disebut UPT Jogja Utara. Waktu itu tim kami menjuara kejuaraan OOSN tahun 2007 tingkat kota. Sangat menyenangkan sekali. Bisa bermain sepakbola dan menjalankan hobi. Di akhir sekolah dasar. Saya dapat lulus dengan nilai yang cukup bagus. Sekitar 26 koma berapa -aku lupa detailnya. Bayangkan dari tiga mata ujian - Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA- bisa menghasilkan rata-rata hampir menyentuh angka sembilan. Cukup memuaskan menurutku. Namun, nilai itu tidak bisa menghantarkanku masuk ke sekolah yang ingin aku tuju. Salah satu SMP di daerah Kota Baru, Yogyakarta.
   Awalnya kecewa tidak bisa masuk ke sekolah menengah pertama "itu". Namun, sedikit bergeser ke utara sekolah yang saya dapat masuk. Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Yogyakarta. Sekolah yang memiliki gedung berarsitektur Belanda -konon rumornya merupakan peninggalan rumah sakit Belanda. Gedung yang menjadi cagar budaya Kota Yogyakarta. Selain gedung, sekolah ini memiliki kegiatan Pramuka terbaik se-Kota Yogyakarta, bahkan lebih, se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengapa? Karena setiap tahunnya SMPN 1 Yogyakarta -terkenal dengan sebutan spedjita oleh para siswanya- memenangkan Lomba Tingkat III (LT III) Kwartir Cabang 1205 Kota Yogyakarta. LT III ini merupakan kegiatan tahunan Kwartir Cabang 1205 untuk melihat progres kegiatan pramuka di seluruh SMP Kota Yogyakarta. Alhamdulillaah, aku pun bisa mendapat kesempatan untuk bergabung dalam tim yang selalu menjuara LT III ini. Setelah proses yang mungkin akan dikatakan orang amat kelam.
   Mengapa amat kelam? Dulu, pada saat kelas 7 -kelas 1 SMP- merupakan periode dimana aku mencoba ikut sebuah geng SMP. Belajar untuk menjadi anak nakal. Orang pasti akan berpikir, anak nakal pasti tawuran, bolos, merokok dan lain-lain. Dan ternyata... Tidak jauh berbeda. Alhamdulillaah, Allah memberikan hidayah-Nya kepadaku. Membuatku menjalani periode ini "hanya" kurang dari satu semester -tepatnya sampai sebelum UAS semester ganjil. Demi meluruskan perilakuku, meluruskan pola pikir dan meluruskan pandangan orang terhadap seorang Marvi. Perjuangan berat ku tempuh di Dewan Pramuka - di Spedjita disebut Dewan Penggalang Garuda Beringin (DP Gaber). 
 Bagiku, Dewan Penggalang bagaikan kawah candradimuka. Perjuangan. "Pengemblengan" fisik maupun mental. Pendidikan karakter. Penanaman pola pikir logis. Kepemimpinan. Hingga penataan hati. Semua tercakup di dalam sebuah organisasi sekolah bernama Dewan Penggalang Garuda Beringin selama kurang lebih satu tahun masa jabatan.
   Satu tahun yang tak ternilai lagi. Memberikan efek yang besar. Awalnya biasa saja menjadi lebih rajin untuk belajar. Awalnya kurang peduli dengan sopan santun menjadi lebih peduli. Lebih menjadi seorang yang berkarakter positif. Mungkin hal ini secara tidak langsung mengarahkanku untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke SMA Negeri 1 Yogyakarta.
   SMA Negeri 1 Yogyakarta, atau orang sering mengatakan SMA Teladan, merupakan sekolah yang dipandang lebih islami daripada SMAN lain di kota Yogyakarta. Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada kehidupan. Dan, yang paling penting, banyak cerita di Teladan yang sulit untuk ku deskripsikan dengan kata-kata. Teladan banyak memberi pengalaman, pelajaran dan hikmah. Hingga kini, jadilah Marvi yang seperti ini.

Salam kenal!

Comments

Popular posts from this blog

Secuil Catatan Harian OPSI 2017 | Part 1

Kita bukan hanya sebuah tim, melainkan sebuah keluarga. Keluarga kontingen DIY!    ucap salah satu Kontingen DIY sekaligus peserta Training Center persiapan OPSI 2017 Hari itu –Minggu, 8 Oktober 2017 menunjukkan cuaca sedang tidak bersahabat. Tidak secerah biasanya. Indahnya bulan dapat terlihat jelas. Namun, berbeda pada hari itu. Mungkin ia sedang bersedih. Bersedih hingga meneteskan air matanya. Air mata alam berupa tetesan air yang turun ke bumi, atau kita sering menyebutnya hujan. Hujan rintik- rintik membasahi sebagian Kota Yogyakarta. Dari daerah Wirobrajan hingga daerah dekat stasiun Tugu Yogyakarta.   Akan banyak siswa dan beberapa guru yang berkumpul pada malam itu. Berkumpul memakai   jaket berwarna merah, menandakan semangat mereka untuk segera berlaga. Kurang lebih 39 siswa dan siswi berkumpul malam itu di stasiun Tugu. Dibersamai oleh guru mereka yang setia menunggu. Mereka ialah siswa-siswi yang mendapatkan undangan khusus. Undangan yang d...