Skip to main content

Secuil Catatan Harian OPSI 2017 | Part 1


Kita bukan hanya sebuah tim, melainkan sebuah keluarga. Keluarga kontingen DIY!  

ucap salah satu Kontingen DIY sekaligus peserta Training Center persiapan OPSI 2017

Hari itu –Minggu, 8 Oktober 2017 menunjukkan cuaca sedang tidak bersahabat. Tidak secerah biasanya. Indahnya bulan dapat terlihat jelas. Namun, berbeda pada hari itu. Mungkin ia sedang bersedih. Bersedih hingga meneteskan air matanya. Air mata alam berupa tetesan air yang turun ke bumi, atau kita sering menyebutnya hujan. Hujan rintik- rintik membasahi sebagian Kota Yogyakarta. Dari daerah Wirobrajan hingga daerah dekat stasiun Tugu Yogyakarta.  
Akan banyak siswa dan beberapa guru yang berkumpul pada malam itu. Berkumpul memakai  jaket berwarna merah, menandakan semangat mereka untuk segera berlaga. Kurang lebih 39 siswa dan siswi berkumpul malam itu di stasiun Tugu. Dibersamai oleh guru mereka yang setia menunggu. Mereka ialah siswa-siswi yang mendapatkan undangan khusus. Undangan yang dinantikan oleh kalangan peneliti siswa SMA se-Nusantara. Undangan mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2017. 39 siswa dan siswi yang berasal dari berbagai SMA baik negeri maupun swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta -Kota Yogyakarta, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Kulon Progo. Mereka merupakan siswa pilihan para juri OPSI 2017 pada bidangnya masing-masing.
           Malam itu, mulai pukul 10, mereka mulai berdatangan memenuhi ruang utama –ruang sebelum masuk pengecekan boarding pass dan identitas- stasiun Tugu. Pasti kebanyakan orang akan bertanya-tanya, “Ada apa ini kok pada pakai merah-merah semua?”. Mungkin pertanyaan itu akan banyak terlintas di pikiran orang-orang yang datang ke sana pada malam itu. Angka 10 mulai beranjak naik. Satu jam terlewat. Kemudian satu jam terlewat lagi. Hingga akhirnya pukul 12 malam -24.00 atau 00.00. Semua siswa dan guru serta teman-teman dari Sagasitas sudah berkumpul. Berkumpul lengkap dalam jumlah 62 orang yang nantinya akan bersama-sama mengarungi malam untuk perjalanan menuju Malang. 62 orang ini akan bertemu dengan rekan-rekan Sagasitas –berjumlah 7 orang- yang sudah lebih dulu sampai di Malang untuk sedikit mempersiapkan kedatangan mereka. 69 orang inilah yang kami sebut Kontingen DIY!
           Kontingen yang solid pasti akan selalu bersama dalam duka dan suka. Itu harapannya. Dan hal ini sudah mulai terlihat dalam dinamika kontingen DIY. Sekitar pukul 00.30, tim kontingen DIY berkumpul melingkar di ruang tunggu sisi selatan –di mana kereta akan berhenti dan membawa kontingen ke Malang- untuk berdoa bersama. Doa bersama dipimpin oleh Ketua Kontingen, Ridwan Budiyanto. Seorang alumni OPSI tahun 2011. Seorang sarjana ilmu pendidikan yang membuat namanya menjadi lebih panjang –Ridwan Budyanti,S.Pd.- dan lebih menekankan sifat pendidik yang ada dalam dirinya. Berdoa untuk diberi kelancaran, keselamatan, kemudahan, dan diberikan yang terbaik untuk kami tim Kontingen DIY. Serta memohon kebermanfaatan atas yang kami lakukan baik itu kebermanfaatan bagi orang lain dan kebermanfaatan yang kami dapati. Semoga doa kami dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sesi sebelum berangkat ini –doa bersama- ditutup dengan foto bersama kontingen.
            Kurang lebih pukul 01.00, terlihat kereta dari arah timur datang mendekat ke stasiun. Kereta Bima dari arah Gambir menuju Malang. Ya. Inilah kereta yang akan membawa kami ke Malang untuk berjuang. Semua anggota kontingen, siswa-siswi, pembimbing, dan rekan-rekan Sagasitas satu persatu mulai memasuki gerbong masing-masing. Beberapa rekan Sagasitas sengaja mengakhirkan diri untuk memasuki gerbong untuk tujuan yang mulai, menjadi sweeper yang memastikan tidak ada anggota kontingen yang tertinggal. Berisiko untuk tertinggal kereta namun memastikan tidak akan ada anggota yang tertinggal. Sungguh sangat mulia bukan?
        Kereta Bima berangkat sekitar pukul 01.00. Melesat ke arah timur menuju Kota Bunga. Perjalanan sepertinya akan memakan waktu hampir delapan jam. Seperti yang tertera di tiket. Delapan jam yang harus kami manfaatkan untuk beristirahat sebelum  memulai lembaran kisah perjuangan OPSI 2017. Di dalam gerbong, kami pun memenuhi hak tubuh masing-masing, beristirahat.
               Sekitar pukul 08.45, kereta telah memberhentikan kami tepat di stasiun yang penting bagi masyarakat Malang, stasiun Malang. Kedatangan kami di kota Apel ini langsung disambut rekan-rekan Sagasitas yang telah dulu berada di Malang. Dengan penuh senyum bahagia, mereka menyambut 62 orang yang baru saja menapakkan kaki di sana. Dengan penuh semangat dan keramahan, mereka menghantarkan kami ke bis yang telah mereka sediakan. Setidaknya ada tiga bis. Dua bis untuk siswa dan guru. Satu bis khusus untuk rekan-rekan Sagasitas yang berjumlah 17 orang dan beberapa prototipe penelitian siswa. Bis-bis ini membawa kami menuju persinggahan awal, Savana Hotel and Convention.
              Savana Hotel and Convention, hotel yang bagus. Terlihat mewah dan nyaman. Hotel ini nantinya akan dijadikan tempat menginap para peserta OPSI 2017 –termasuk 39 siswa dari kontingen DIY dan juga sebagai tempat untuk lomba presentasi penelitian. Perjalanan dari stasiun menuju hotel tersebut tergolong singkat –karena ternyata memang dekat dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Sekitar pukul 09.15 kami sudah sampai di hotel itu. Menurunkan barang dari bis –koper dan hal-hal yang berhubungan dengan lomba lalu dilanjutkan dengan sarapan pagi yang diberikan rekan-rekan Sagasitas. Nasi kotak yang mungkin terlihat tidak lezat namun terasa lezat ketika belum makan disaat waktu makan telah terlewat. Makan pagi kami sekaligus menunggu registrasi peserta dimulai.
          Awalnya, panitia mengatakan bahwa pukul 11.00 pendaftaran akan bisa dimulai. Seluruh peserta baik kontingen DIY maupun peserta lain terlihat sibuk. Namun, ada juga peserta yang baru masuk ke hotel lalu mencari tempat untuk mempersiapkan berkas mereka. Sayang sekali, rencana awal berubah karena mungkin panitia belum siap untuk melakukan registrasi peserta. Alhasil, registrasi dijadwalkan ulang pada pukul 13.00. Peserta diminta untuk makan siang terlebih dahulu. Melakukan sholat Dzuhur bagi para pemeluk agama Islam. Diharapkan, setelah tepat pukul 13.00, para peserta bisa mulai registrasi.
            Sekitar pukul 13.00 –tidak tepat pukul tersebut pendaftaran mulai dibuka. Peserta berkumpul dan antre sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Bidang Sosial-Humaniora (Soshum), Sains dan Teknologi (Saintek) dan Matematika Rekayasa (Matrek). Kesibukan siswa mulai terlihat. Berkas-berkas mulai menumpuk tinggi di meja pendaftaran. Dan setelah peserta mendaftarkan diri, mereka mendapatkan kunci untuk kamar mereka. Kamar  yang akan menjadi tempat mereka untuk beristirahat dan memulihkan serta meningkatkan semangat mereka dalam berlomba.
            Selagi para siswa kontingen DIY secara mandiri dapat melakukan registrasi dengan benar dan lancar. Rekan-rekan Sagasitas pun undur diri dari Savana Hotel and Convention menuju tempat beristirahat mereka, MaxOne Hotel. Hotel yang unik dan menarik serta tentunya nyaman. Hotel ini memiliki fasilitas kolam renang di lantai paling atas –sering disebut rooftop dan sebuah kafe di lantai 8 yang mengadakan acara unik di setiap hari Jumat malam. Disinilah kami, rekan-rekan Sagasitas akan merebahkan badan untuk mengisi tenaga dan semangat. Dari tempat inilah, awal lembaran kisah yang akan kami buat dalam OPSI 2017.

Yogyakarta?! Istimewa!!
Yogyakarta?! Istimewa!!
Yogyakarta?! Istimewa!!
OPSI 2017?! Juara Umum!!



Comments

Popular posts from this blog

Berawal dari "Tahu", lalu "Kenal", agar “Akrab”

Terkadang hidup terjadi begitu sederhana. Sesederhana sebuah perkenalanku denganmu.   Kadang orang tak tahu, pulpen dan identitas memiliki suatu hubungan.        Segala sesuatu memiliki nama atau sebutan atau istilah yang melekat atas dirinya. Aku sangat yakin, nama ini akan membuat individu lain -khususnya manusia- mudah untuk mengingat dan mengenalinya. Mari kita ambil sebuah contoh berikut:     Benda yang panjangnya sekitar 20 cm. Digunakan untuk menulis. Bisa juga digunakan untukmenggambar atau meninggalkan jejak dari tinta yang ada didalamnya. Benda ini tidak akan berfungsi jika tidak ada tinta didalamnya. Tinta inilah yang membuat jejak dari pulpen ini tidak bisa dihapus. Kecuali, dengan penghapus tertentu atau menggunakan sebuah benda yang dinamakan tipe-x (baca:tipeks) kering atau correction pen. Jejak yang ditinggalkan dapat berwarna-warni. Tapi umumnya berwarna hitam. Warna merah, biru, dan hijau juga tak ja...